Jemaat GPM Petra merupakan salah satu Jemaat korban konflik Maluku. Pada 17 Mei 2000, gedung gereja Petra terbakar, dan ibadah jemaat tidak dapat berlangsung lagi di dalamnya.

Namun seiring komitmen kita membangun perdamaian dan mengupayakannya, maka Jemaat GPM Petra kembali membenahi pelayanan gereja sebagai cara dan jalan untuk memperkuat ketahanan sosial menuju perdamaian yang dicita-citakan.

Beberapa Peristiwa Sejarah

Pada tahun 1983, Jemaat GPM Bethel, sebagai salah satu Jemaat tertua di Kota Ambon, memekarkan diri dan melembagakan Jemaat GPM Imanuel, bertepatan dengan HUT ke-48 GPM, 6 Sept 1983. Sejak tahun itu, Jemaat GPM Imanuel melakukan seluruh tugas bergereja dalam rangka membentuk iman jemaatnya, mulai dari Kelurahan Karang Panjang sampai Kelurahan Waihoka. Kampong Tepa adalah istilah budaya yang digunakan untuk menyebut kelompok Jemaat GPM Imanuel di kawasan Lahane sampai Air Besar. Dengan kekuatan “lakpona amarere” pematangan iman jemaat di daerah ini berlangsung secara efektif, seiring pembauran sosial yang terus tinggi dan kompleks. Dalam dinamika itu, melalui Persidangan Jemaat GPM Imanuel tahun 1995, dibentuklah Tim Pemekaran Jemaat. Maka tepatnya 19 Januari 1997, Jemaat Petra dilembagakan dari Jemaat Imanuel Karpan. Realitas sosial Petra terus berkembang, seiring perluasan dan penambahan kawasan permukiman, termasuk di daerah Kopertis, Jln. Tabea Jou atau kawasan Gonzalo Veloso.

Jemaat ini telah menjadikan dirinya pilar perdamaian Maluku di kawasan pegunungan Karang Panjang dalam relasi dengan basudara muslim di kawasan Air Besar, Air Kuning, Waihoka sampai Kebun Cengkeh. Pilar perdamaian ini kokoh laksana batu karang (=petra) di mana di atasnya, Tuhan telah mendirikan jemaatNya. Kekokohan itu bukan hanya dalam membentengi diri melainkan menjadikan dirinya “transit kehidupan” untuk terus berjumpa dan saling menerima. Maka hari ini, Minggu 19 Januari 2020, seluruh pelayan dan jemaat GPM Petra menerima berkat Tuhan melalui pemekaran dan pelembagaan Petra menjadi Jemaat Petra dan Jemaat Bukit Doa. Suatu momentum bersejarah dalam kehadiran GPM pada seluruh momentum perdamaian Maluku.

Pesan Gerejawi

Ibadah Pemekaran Jemaat dan Pelembagaan Jemaat ini dilayani langsung oleh Ketua Sinode GPM, Pdt. A.J.S. Werinussa (19/1-2020, jam 15.00). Sesuai bacaan Alkitab dari Yesaya 61:1-6, Pdt. Werinussa menegaskan bahwa peristiwa pemekaran dan pelembagaan Jemaat memungkinkan terjadinya tanda pertumbuhan iman warga gereja. Dirinya menegaskan bahwa pemberitaan Injil menjadi kosa kata penting dalam pemekaran dan pelembagaan jemaat, dan itu terjadi melalui kerja Roh Kudus sebagai gerak menghidupkan dalam fungsi membela dan merawat kehidupan.

Dalam konteks pemekaran dan pelembagaan ini ada kerja untuk merawat orang-orang yang remuk hatinya, sehingga perlu dikonsolidasikan. Hal penting berikutnya ialah bagaimana Injil dapat membebaskan mereka yang tersandera oleh berbagai kepentingan. Keadaan ketersanderaan membuat orang pesimis karena ia tidak melihat keberpihakan Tuhan bagi dirinya. Sebab itu gereja harus membebaskan orang dari pesimisme. Itulah tujuan kerja pemberitaan injil.

Di sisi lain, pemekaran dan pelembagaan jemaat harus pula meyakinkan orang bahwa mereka tidak kehilangan sesuatu yang berarti begitu saja. Sebab itu penghiburan, oleh pemberitaan injil, sejatinya menghibur orang benar, yang akan sanggup menemukan jalan keluar dari rupa macam masalah.

Pemekaran dan pelembagaan jemaat harus membebaskan jemaat dari situasi “perkabungan oleh nasib”. Gereja harus menggantikan debu itu dengan “perhiasa” di kepala. Ada kesukacitaan dan kepastian. Ilustrasi ini relevan dengan gereja yang memberitakan injil menghadirkan mahkota emas di kepala Jemaat. Dari situ kita menjadi jemaat yang punya masa depan. Jemaat itulah yang menjadi tumpuan harapan gereja. Pada perspektif inilah, gereja digambarkan berada pada jalan-jalan mediatif, pembebasan.

Gereja yang bekerja dalam Roh Tuhan harus pula menyalakan pelita dan mempersiapkan minyak untuk pelita itu agar terang dan kita bisa saling melihat. Pelita yang menyala akan menyulutkan cahaya empati. Sehingga jemaat tidak lagi hidup dalam kegelapan, karena bisa saling melihat satu dengan lainnya.

Ibadah Pemekaran dan Pelembagaan

Ibadah ini berlangsung di dua gedung gereja. Pertama, di gereja Petra, yakni ibadah Pemekaran, yang dilayani oleh Pdt. A.J.S. Werinussa.

Di dalamnya berlangsung akta pemekaran dan pelembagaan, kemudian Pelantikan Ketua Majelis Jemaat GPM Bukit Doa, yakni Pdt. Ny. Y. Batlajery, yang dimutasikan dari jabatan Pendeta Jemaat GPM Ebenhaezer. Sedangkan Jemaat GPM Petra tetap dipimpin Pdt. Ny. M. Lorwens.

Selanjutnya ialah arak-arakan ke Gedung Gereja Bukit Doa untuk ibadah Pelembagaan yang dilayani oleh Pdt. P. Refialy.

(Sekilas  Ulasan  Oleh : Pdt. Elifas. Tomix. Maspaitella)